Banjir dan Tanah Longsor Dominasi Bencana 2019, Apa Rencana Kesiapsiagaan yang Perlu Dilakukan?

25 Maret 2019

Ketika memasuki musim penghujan, banjir disertai tanah longsor kerap melanda sejumlah daerah di Indonesia.

Sumber: dw.com

Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor merupakan jenis bencana yang dominan terjadi di Indonesia. Dilansir cnnindonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi 95 persen bencana yang akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia pada 2019 adalah bencana hidrometeorologi.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang muncul sebagai dampak dari curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrem. Banjir dan tanah longsor diprediksi akan mendominasi kejadian bencana selama 2019.

Secara spesifik, banjir dan tanah longsor akan terjadi hingga April 2019 dan di pengujung tahun saat memasuki musim penghujan. Potensi tingginya bencana banjir dan tanah longsor berada di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Berdasarkan data BNPB per Februari 2019, jumlah kejadian bencana banjir mencapai 187 dan tanah longsor mencapai 165 dari total 721 kejadian. Sebanyak 177.431 korban terdampak dan mengungsi akibat banjir, sedangkan 1.064 korban terdampak dan mengungsi akibat tanah longsor. Belum lagi menimbulkan kerugian lainnya yang mengakibatkan kerusakan pada bangunan rumah, fasilitas kesehatan, peribadatan, dan pendidikan.

 

 

BNPB mengungkapkan penyebab ancaman banjir dan tanah longsor adalah masih meluasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, perubahan penggunaan lahan, dan tingginya kerentanan tanah di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, anomali suhu muka air laut yang menghangat di perairan Indonesia juga mengakibatkan uap air melimpah dan intensitas curah hujan menjadi tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi demikian dapat terjadi hingga pertengahan Mei mendatang.

Kasus Banjir dan Tanah Longsor 2019

Musim hujan memang mengakhiri kekeringan, namun juga mendatangkan ancaman bagi warga yang daerahnya berpotensi diterjang banjir dan tanah longsor. Bencana banjir dan tanah longsor masih menjadi momok bagi masyarakat selama awal tahun 2019 ini.

Curah hujan berintensitas tinggi masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan tinggi akan terjadi di daerah Aceh, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Dilansir bnpb.go.id, curah hujan deras dan kondisi tanah yang labil telah mengakibatkan longsor di Desa Medeng dan Desa Sungkung II Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat pada 31 Januari 2019 pukul 21.30 WIB. Bencana tersebut mengakibatkan 3 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, dan 11 rumah tertimbun.

Sumber: cnnindonesia.com

Dilansir tirto.id, bencana banjir dan longsor juga melanda 13 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Dampak bencana per 1 Februari 2019 tercatat 79 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, 46 orang luka-luka, dan 9.429 orang mengungsi akibat bencana tersebut. Selain korban jiwa, bencana juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan, seperti rumah, tempat ibadah, fasilitas pemerintahan, jembatan, dan fasilitas pendidikan.

Sedangkan pada bulan Maret 2019, banjir dan longsor terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 7 Maret 2019 pukul 07.00 WITA. Bencana ini mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 684 orang mengungsi, dan kerugian materiil lainnya. Penyebab bencana adalah hujan dengan intensitas tinggi ditambah kondisi topografi perbukitan dan tanah yang labil.

Akibat ancaman banjir dan longsor ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana tersebut. Dilansir bnpb.go.id, Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho juga meminta masyarakat untuk mewaspadai longsor, sebab longsor sering kali terjadi tiba-tiba.

Beberapa tanda potensi longsor di perbukitan atau lereng antara lain adanya retakan tanah, timbulnya amblesan, munculnya mata air atau rembesan air di lereng, pohon miring, atau air sumur atau kola tiba-tiba menjadi keruh.

Amati kondisi lingkungan sekitar Anda. Hindari melakukan aktivitas di sekitar sungai karena sering kali tiba-tiba terjadi peningkatan debit sungai karena di hulu hujan deras. Terutama bagi Anda yang berada di daerah rawan banjir dan tanah longsor, pastikan Anda memahami kesiapsiagaan bencana.

Kesiapsiagaan Bencana Banjir dan Longsor

Detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.

Dalam menghadapi ancaman bencana, kesiapsiagaan menjadi kunci keselamatan Anda. Menurut UU RI Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

Perlu Anda ketahui, bencana sering terjadi tanpa peringatan sehingga Anda membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapinya. Dalam upaya mengurangi dampak bencana, tindakan perencanaan perlu dilakukan.

Pada saat bencana terjadi, korban jiwa dan kerusakan yang timbul umumnya diakibatkan oleh kurangnya persiapan dan sistem peringatan dini. Persiapan yang baik bisa membantu Anda untuk melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat waktu.

Berdasarkan Buku Saku BNPB 2018 tentang Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana, ada beberapa rencana kesiapsiagaan atau tindakan prabencana banjir dan tanah longsor yang perlu kita lakukan untuk mengurangi risiko akibat bencana tersebut.

  1. Banjir

Menurut BNPB, banjir adalah peristiwa atau keadaan di mana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Kejadian bencana banjir sangat dipengaruhi oleh:

  • Curah hujan yang tinggi
  • Permukaan tanah yang lebih rendah dibandingkan air laut
  • Daerah yang terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keluar yang sempit
  • Kurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan pengembangan pemukiman
  • Buruknya penanganan sampah
  • Buruknya penanganan saluran air (drainase).

Banjir bisa terjadi secara lambat (gradual) dan ada juga yang mendadak, yakni banjir bandang. Ada hal-hal yang harus kita waspadai saat banjir dan berpotensi menimbulkan akibat yang fatal, antara lain:

  • Arus
  • Benda-benda yang hanyut
  • Binatang berbahaya yang bisa masuk ke dalam rumah
  • Ketinggian air yang bisa menenggelamkan.

Sehingga, penting bagi kita untuk mengetahui persiapan menghadapi banjir, di antaranya:

  • Mengetahui istilah-istilah peringatan yang berhubungan dengan bahaya banjir, seperti Siaga I sampai dengan Siaga IV dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan
  • Mengetahui tingkat kerentanan tempat tinggal kita, apakah berada di zona rawan banjir.Mengetahui cara-cara untuk melindungi rumah kita dari banjir.
  • Mengetahui saluran dan jalur yang sering dilalui air banjir dan apa dampaknya untuk rumah kita.
  • Melakukan persiapan untuk evakuasi, termasuk memahami rute evakuasi dan daerah yang lebih tinggi.
  • Memiliki sebuah rencana darurat keluarga. Rencana biasanya mencakup:

─ Analisis ancaman di sekitar

─ Identifikasi titik kumpul

─ Nomor kontak penting

─ Ketahui rute evakuasi

─ Identifikasi lokasi untuk mematikan air, gas, dan listrik

─ Identifikasi titik aman di dalam bangunan atau rumah

─ Identifikasi anggota keluarga yang rentan (anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas).

  • Membuat persiapan untuk hidup mandiri selama sekurangnya tiga hari, misalnya persiapan tas siaga bencana, penyediaan makanan dan air minum

Tas Siaga Bencana (TSB) merupakan tas yang dipersiapkan anggota keluarga untuk berjaga-jaga apabila terjadi suatu bencana atau kondisi darurat lain.

Berikut 10 benda yang akan dibutuhkan saat bencana, yaitu:

1) Surat-surat penting, seperti surat tanah, surat kendaraan, ijazah, akta kelahiran, dsb.

2) Pakaian untuk 3 hari, seperti pakaian dalam, celana panjang, jaket, selimut, handuk, jas hujan, dsb.

3) Makanan ringan tahan lama, seperti mie instant, biskuit, abon, coklat, dsb.

4) Air minum, setidaknya bisa mendukung kebutuhan selama kurang lebih 3 hari.

5) Kotak obat-obatan P3K, seperti obat-obatan pribadi dan obat-obatan umum lainnya.

6) Alat bantu penerangan, seperti senter, lampu kepala (headlamp), korek api, lilin, dsb.

7) Uang, siapkan uang tunai secukupnya untuk perbekalan selama kurang lebih 3 hari.

8) Peluit, alat bantu untuk meminta pertolongan saat darurat.

9) Masker, alat bantu pernapasan untuk menyaring udara kotor/tercemar.

10) Perlengkapan mandi, seperti sabun mandi, sikat gigi & odol, sisir, cotton bud, dsb.

11) Radio/ponsel, beserta baterai/charger/powerbank untuk memantau informasi bencana.

 

  • Berkaitan dengan harta dan kepemilikan, maka Anda bisa membuat catatan harta kita, mendokumentasikannya dalam foto, dan simpan dokumen tersebut di tempat yang aman
  • Menyimpan berbagai dokumen penting di tempat yang aman.
  • Menghindari membangun di tempat rawan banjir kecuali ada upaya penguatan dan peninggian bangunan rumah.
  • Memperhatikan berbagai instrumen listrik yang dapat memicu bahaya saat bersentuhan dengan air banjir.
  • Turut serta mendirikan tenda pengungsian dan pembuatan dapur umum.
  • Melibatkan diri dalam pendistribusian bantuan.
  • Menggunakan air bersih dengan efisien.
  • Menyimak informasi dari berbagai media seperti radio, televisi, media online, maupun sumber lain yang resmi terkait potensi bencana.
  1. Longsor

Menurut BNPB, tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.

Bencana tanah longsor sering kali dipicu karena kombinasi dari curah hujan yang tinggi, lereng terjal, tanah yang kurang padat serta tebal, terjadinya pengikisan, berkurangnya tutupan vegetasi, dan getaran.

Bencana longsor biasanya terjadi begitu cepat sehingga mengakibatkan terbatasnya waktu untuk melakukan evakuasi mandiri. Material longsor menimbun apa saja yang berada di jalur longsoran.

Berikut tindakan prabencana tanah longsor yang direkomendasikan BNPB:

  • Mengurangi tingkat keterjalan lereng permukaan maupun air tanah. (Perhatikan fungsi drainase adalah untuk menjauhkan air dari lereng, menghindari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).
  • Membuat bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.
  • Menghindari daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya.
  • Membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras-teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).
  • Melakukan penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80 persen sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan, di bagian dasar ditanam rumput).
  • Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat.
  • Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan. Pengenalan daerah rawan longsor.
  • Membuat tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).
  • Menutup rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat ke dalam tanah.
  • Utilitas yang ada di dalam tanah harus bersifat fleksibel.
  • Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan. Menanami kawasan yang gersang dengan tanaman yang memiliki akar kuat, banyak dan dalam seperti nangka, durian, pete, kaliandra, dan sebagainya.
  • Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah yang tidak stabil (tanah gerak).
  • Membuat selokan yang kuat untuk mengalirkan air hujan.
  • Waspada ketika curah hujan tinggi.
  • Jangan menggunduli hutan dan menebang pohon sembarangan.

Untuk individu:

  • Waspada curah hujan tinggi.
  • Kenali dan waspadai tanda-tanda longsor.
  • Pahami rencana kesiapsiagaan bencana longsor.
  • Siapkan rencana darurat keluarga dan persiapan untuk hidup mandiri selama sekurangnya tiga hari, misalnya persiapan tas siaga bencana, penyediaan makanan dan air minum.
  • Pantau informasi mengenai curah hujan dan kemungkinan tanah longsor.
  • Bila ada himbauan mengungsi, segera lakukan evakuasi.

Poin Penting Kesiapsiagaan Bencana

Sumber: detik.com

Banyak upaya kesiapsiagaan bermanfaat dalam berbagai situasi bencana. Beberapa upaya penting untuk kesiapsiagaan, di antaranya:

  • Memahami bahaya di sekitar Anda.
  • Memahami sistem peringatan dini setempat. Mengetahui rute evakuasi dan rencana pengungsian.
  • Memiliki keterampilan untuk mengevaluasi situasi secara tepat dan mengambil inisiatif tindakan untuk melindungi diri.
  • Memiliki rencana antisipasi bencana untuk keluarga dan mempraktikkan rencana tersebut dengan latihan.
  • Mengurangi dampak bahaya melalui latihan mitigasi.
  • Melibatkan diri dengan berpartisipasi dalam pelatihan.

Dengan mengetahui rencana kesiapsiagaan bencana atau tindakan prabencana, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat yang berada di daerah rawan bencana terhadap gejala banjir dan tanah longsor yang akan terjadi, sehingga dampak bencana dapat dikurangi.

Salam safety!