Waspada Penyakit Pasca Banjir dan Pahami Pencegahannya

18 Maret 2019

World Health Organization (WHO) menyebut bencana banjir dapat meningkatkan penularan penyakit menular.

Sumber: mimbar-rakyat.com

Bencana hidrometeorologi salah satunya banjir akan mendominasi bencana pada tahun 2019. Dilansir cnnindonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan lebih dari 2.500 bencana akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. BNPB pun memprediksi 95 persennya adalah bencana hidrometeorologi.

Potensi tinggi bencana banjir berada di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Bencana banjir akan membahayakan 489 kabupaten dan kota dengan jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang-tinggi sebanyak 63,7 juta jiwa.

Berdasarkan data BNPB pada Januari 2019, jumlah kejadian bencana banjir mencapai 96 dari total 430 seluruh kejadian, dengan 93.302 korban terdampak dan mengungsi. Banjir mengakibatkan sebanyak 84 korban meninggal dan hilang serta 77 korban luka-luka. Dari sisi infrastruktur, banjir mengakibatkan 588 rumah mengalami kerusakan dan 37.815 terendam.

Tidak hanya itu, banjir di berbagai wilayah Indonesia juga memengaruhi berbagai sektor lainnya, salah satunya kesehatan. Pasca banjir biasanya muncul banyak penyakit menular. Bahaya bakteri e-coli dan leptospira cenderung meningkat pasca banjir.

Tidak hanya penyakit kulit yang mengancam kesehatan para korban banjir, namun juga beberapa penyakit lainnya. Mengingat tingginya frekuensi hujan dan potensi banjir di berbagai wilayah Indonesia, maka upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko kesehatan dan lingkungan akibat banjir perlu dilakukan.

Baca juga artikel ini:

[Infografis] Bahaya Penyakit Dibalik Banjir Dan Cara Mengatasinya

Waspada Hepatitis B Dan C, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala

Banjir dan Penyebabnya

Menurut BNPB, banjir adalah peristiwa atau keadaan di mana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat.

Sumber: tempo.co

Kejadian bencana banjir sangat dipengaruhi oleh:

Faktor manusia:

  • Sampah yang menyumbat saluran air
  • Sedikitnya lahan resapan air
  • Menyempitnya daerah aliran sungai (DAS)
  • Penebangan hutan sembarangan dan pengembangan pemukiman.

Faktor alam:

  • Curah hujan yang tinggi dalam waktu yang lama
  • Badai
  • Permukaan tanah yang lebih rendah dibandingkan air laut
  • Naiknya permukaan air laut dan sungai.

Penyebab banjir yang beragam membuat kita harus selalu waspada dan memahami tindakan yang dianggap perlu dilakukan bila terjadi banjir. Pasalnya, banjir yang tidak dapat ditangani dapat menimbulkan kerugian dan korban jiwa. Bencana banjir juga sering diikuti dengan berbagai masalah kesehatan seperti diare, demam berdarah, leptospirosis, dll.

Penyakit Pasca Banjir

Banjir mulai surut, tapi kita harus tetap waspada dengan beberapa penyakit setelahnya. Pasalnya, banjir membawa kotoran seperti sampah, air got, atau septik tank. Kondisi ini mengakibatkan nyamuk dan bibit kuman penyakit mudah berkembang biak.

Sumber: okezone.com

WHO menyebut bencana banjir dapat meningkatkan transmisi penyakit menular. Berbagai penyakit menular yang harus diwaspadai pasca banjir di antaranya:

  1. Diare

Diare adalah penyakit yang membuat penderitanya menjadi sering buang air besar, dengan kondisi tinja yang encer. Penyakit diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu (personal hygiene).

Diare kerap menyerang individu akibat kebersihan yang tidak terjaga, seperti tidak mencuci tangan dengan bersih memakai sabun, meminum sembarang air tanpa memastikan telah direbus dengan matang, atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.

Pasca banjir, sumber-sumber air minum khususnya dari sumur dangkal, akan ikut tercemar. Makanan dan minuman yang dikonsumsi juga rentan tercemar air banjir. Diare pasca banjir biasanya diakibatkan bakteri salmonella, shigella, dan cholera.

Gejala:

  • Perut kembung atau kram
  • Tinja encer
  • Rasa mulas
  • Terkadang mual dan muntah.

Pada kasus diare parah, gejala biasanya disertai demam, sakit kepala, dan tinja berlendir, berdarah, atau mengandung makanan yang belum tercerna.

Pencegahan:

  • Cuci tangan pakai sabun
  • Konsumsi makanan yang sudah dimasak
  • Minum air matang
  • Jaga kebersihan lingkungan.
  1. Demam Berdarah

Demam berdarah adalah penyakit infeksi akut yang diakibatkan oleh virus dan ditularkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. Saat musim hujan, terjadi peningkatan tempat perkembangbiakan nyamuk jenis ini.

Sumber: hellosehat.com

Penyebabnya karena banyak sampah seperti kaleng bekas, ban bekas, dan tempat-tempat tertentu terisi air sehingga menimbulkan genangan, tempat berkembang biak nyamuk tersebut. Kondisi ini membuat jumlah nyamuk aedes aegypti semakin banyak dan membuat kesempatannya untuk menyebarkan penyakit demam berdarah semakin tinggi.

Demam berdarah terjadi saat virus masuk ke dalam tubuh manusia akibat gigitan nyamuk. Meski umumnya tidak berbahaya, tetapi penyakit ini dapat berakibat komplikasi yang mengarah pada pendarahan fatal akibat kerusakan pembuluh darah.

Gejala:

  • Demam tinggi hingga 40°C atau lebih
  • Sakit kepala berat
  • Nyeri otot, sendi, dan tulang
  • Mual dan muntah

    Catatan: Saat ini demam berdarah memiliki gejala baru, yakni tidak lagi ditandai bintik atau bercak merah pada kulit. Tidak semua orang yang terjangkit mengalami gejala itu, jika demam tinggi, penderita harus melakukan pengecekan di laboratorium.

    Pencegahan:

    Kemenkes merekomendasikan masyarakat yang berada di daerah rawan banjir untuk bisa menjaga kebersihan lingkungan, terutama menerapkan 3M-Plus, di antaranya:

  • Menguras tempat penampungan air secara teratur, seperti bak mandi atau tangki air, minimal tiap pekan
  • Menutup rapat tempat penyimpanan air
  • Mengubur kaleng-kaleng bekas atau mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

Lakukan pula langkah plus untuk membantu pencegahan, yakni dengan mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah, memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, menghentikan kebiasaan menggantung pakaian, mengenakan pakaian longgar, dan menggunakan pelembab anti-nyamuk.

  1. Penyakit Leptospirosis

Merujuk pada data Kemenkes, salah satu penyakit menular yang mengancam warga di daerah banjir, yakni leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini.

Beberapa hewan yang menjadi pembawa leptospirosis adalah anjing, tikus, sapi, atau babi. Namun di Indonesia, tikus bisa menjadi sumber utama penularan penyakit leptospirosis. Bakteri leptospira dapat menyerang manusia melalui kontak dengan air atau tanah masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir mata atau luka lecet.

Seseorang yang memiliki luka tanpa perlindungan memadai seperti sepatu boot atau baju pelindung, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran atau kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira, berpotensi terinfeksi dan jatuh sakit

Gejala:

Penyakit leptospirosis tidak memiliki gejala yang jelas, namun biasanya orang yang terjangkit merasakan tanda-tanda:

  • Merasa flu ringan hingga berat
  • Mual dan muntah
  • Meriang
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Diare
  • Kulit atau area putih pada mata yang menguning
  • Demam
  • Ruam

Pencegahan:

  • Hindari air banjir yang sudah terkontaminasi dan pastikan kebersihan air sebelum mengonsumsinya
  • Jauhi binatang yang rentan terinfeksi bakteri, terutama tikus yang berkeliaran
  • Gunakan pakaian yang melindungi tubuh dari kontak langsung dengan hewan pembawa bakteri leptospira
  • Jaga kebersihan dan cuci tangan setelah melakukan kontak dengan hewan atau sebelum makan.
  1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

ISPA juga salah satu penyakit menular yang biasanya menyerang warga pasca banjir. ISPA adalah infeksi yang mengganggu proses pernapasan seseorang. Penyebab infeksi ini umumnya adalah bakteri, virus, dan berbagai mikroba lainnya yang menyerang hidung, trakea (pipa pernapasan), atau bahkan paru-paru.

Sumber: kompas.com

Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan dan mengakibatkan tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Kondisi bisa berakibat fatal hingga berujung pada kematian.

Gejala:

  • Batuk
  • Demam tinggi, bahkan disertai menggigil
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Sering bersin
  • Hidung tersumbat/berair
  • Kesulitan bernapas

Pencegahan:

Kemenkes merekomendasikan beberapa pencegahan yang sebaiknya dilakukan, di antaranya:

  • Mencuci tangan pakai sabun secara teratur terutama setelah beraktivitas
  • Ketika batuk atau bersin, pastikan menutup mulut atau hidung dengan tisu atau tangan
  • Tidak meludah sembarangan
  • Perbanyak konsumsi makanan kaya serat dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  1. Penyakit kulit

Penyakit kulit dapat berupa infeksi, alergi, atau bentuk lain. Jika musim banjir, maka penyebab utamanya adalah suhu udara, kebersihan lingkungan, dan kebersihan diri yang tidak terjaga baik.

Gejala:

  • Kulit sensitif
  • Gatal-gatal
  • Ruam

Pencegahan:

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Kasus penyakit di atas sering meningkat secara signifikan, beberapa di antaranya bahkan dapat menjadi kejadian luar biasa (KLB) yang tidak jarang disertai kematian (leptospirosis).

Upaya Pencegahan Timbulnya Penyakit Pasca Banjir

Sumber: portaljabar.net

WHO merekomendasikan beberapa cara untuk mencegah timbulnya penyakit pasca banjir, di antaranya:

  • Bersihkan tempat tinggal, dimulai dengan:
  • Mengumpulkan dan membuang sampah yang terbawa arus air ke tempat sampah
  • Membersihkan lantai dan dinding rumah dengan cairan desinfektan
  • Mengubur lubang-lubang bekas air banjir, jangan biarkan ada air tergenang
  • Berhati-hati menggunakan sumber air
  • Jangan gunakan dahulu air sumur atau air keran yang berpotensi terkontaminasi
  • Lakukan klorinasi air sebagai desinfektan. Klorin terbukti efektif melawan hampir semua patogen yang menular melalui air
  • Konsumsi air dalam kemasan atau air yang sudah dimasak mendidih.
  • Gunakan alat pelindung (sendal/sepatu) saat berjalan dalam genangan air atau saat menyusuri banjir. Hindari tempat persembunyian tikus, dengan menutup lubang tikus yang ada
  • Tingkatkan daya tahan tubuh dengan:
  • Mengonsumsi suplemen vitamin dan makanan bergizi dan teratur
  • Istirahat yang cukup
  • Mencuci tangan pakai sabun sebelum atau sesudah makan
  • Cuci makanan dengan air bersih dan hindari makanan yang mungkin telah kontak dengan air banjir yang terkontaminasi
  • Membersihkan diri setelah terkena air banjir.
  • Dapatkan perawatan medis secepatnya untuk mencegah penurunan kondisi tubuh dan segera obati luka yang terbuka dengan plester tahan air.

Mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan akibat banjir adalah langkah yang terbaik. Siap siaga pasca banjir, cegah penyakit segera mungkin.

Salam safety!