Kecelakaan Kerja Bisa Menimpa Siapa Saja

21 Februari 2019

Siang itu, Eka dan Dwi begitu asyik mengobrol. Padahal, jam istirahat sudah habis. Pekerjaan mereka pun sudah menanti untuk segera diselesaikan.

“Bro! Tahu ga soal kejadian anak itu kemarin?” ujar Eka sambil menuding Tirta dengan dagunya.

“Wah... memangnya dia kenapa?”

“Aku ga ngerti, dia itu sebenarnya polos atau bego,” jawabnya disertai tawa.

“Memangnya kenapa, sih?”

Seturut cerita Eka, karyawan baru tersebut—yang bahkan belum genap sebulan bekerja di sini—tidak menyimpan kembali perkakas tangan yang telah dipakainya ke tempat penyimpanan alat kerja. Padahal, jelas-jelas setiap pekerja diwajibkan melakukan hal itu. Alhasil, Tirta dicegat dan dimarahi habis-habisan oleh pak Munjib.

“Ya, ampun. Masa yang kayak begitu saja si Tirta ga tahu, sih.”

“Justru itu. Konyol, kan!”

“Eh, jangan-jangan dia memang ga dapat training soal cara penggunaan atau perawatan alat-alat kerja, Bro?”

“Laaah! Kalau pun iya belum dapat training, harusnya dia punya kesadaran, dong. Yang namanya barang habis dipakai, harusnya ya memang disimpan kembali ke tempatnya,” ucap Eka dengan nada berapi-api. “Ini kan hal sepele. Setiap orang pasti tahu. Itu juga kalau orangnya punya etiket, sih.”

Dwi manggut-manggut.

“Eh tapi, kenapa pak Munjib ga ngasih tahu baik-baik saja, sih? Seperti biasanya.”

“Eumm... kurang tahu. Tapi, bisa jadi karena pak Munjib masih kesel sama si Tirta gara-gara masalah sebelumnya.”

“Lho, memangnya dia melakukan apa lagi, sih?”

Eka kembali tertawa. Bahkan kali ini tawanya lebih lebar dari sebelumnya. Dia baru berhenti ketika melihat wajah Dwi yang tampak kesal. Entah kesal karena tawa Eka atau kesal pada dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa soal orang-orang di sekitarnya.

“Ingat ga soal pak Munjib yang hampir celaka?”

Dwi mengangguk.

“Nah, itu kan gara-gara si Tirta,” imbuh Eka.

Ya, Tirta hampir mencelakai pak Munjib. Pangkal masalahnya, Tirta menggunakan gerinda tangan yang batunya sudah rusak. Sesaat setelah dioperasikan, batu berbentuk bundar tersebut pecah. Pecahannya terpelanting ke berbagai arah, termasuk ke arah pak Munjib. Untungnya, pak Munjib bisa menghindar. Kalau tidak, dia pasti sudah terluka.

Dalam kejadian itu, Tirta melakukan dua kesalahan sekaligus. Pertama, dia tidak mengecek peralatan sebelum digunakan. Kedua, dia tidak memasang pelindung pada gerinda tangan yang dioperasikannya.

“Waduh... bahaya juga ya itu anak.”

“Betul!”

“Tapi kalau separah itu, jangan-jangan dia memang enggak dapat training soal penggunaan alat kerja, Bro.”

Eka sanksi. Setahu dirinya, semua karyawan baru akan selalu diberi training. Apalagi training mengenai keselamatan dasar menggunakan alat kerja. Jadi, jika Tirta sebegitu cerobohnya, itu pasti karena dia tidak mengindahkan training tersebut. Bahkan, bisa jadi Tirta menganggap kalau keselamatan kerja itu bukan hal yang penting. Atau, menganggap kalau kecelakaan kerja tidak akan menimpa dirinya.

“Padahal kan kecelakaan kerja itu bisa menimpa siapa saja. Termasuk dirinya,” tandas Eka.

“Iya. Termasuk kita juga,” tukas Dwi.

Eka mengangguk pelan.

“Lho... lho... orang lain sibuk kerja kalian kok malah ngobrol-ngobrol santai begini?”

Sang mandor, Pak Munjib, tiba-tiba saja datang dari arah belakang. Eka dan Dwi langsung panik karena kepergok berleha-leha di jam kerja.

“Anu, Pak...”

“Una-anu-una-anu... ayo kerja!” ujar pak Munjib.

Keduanya langsung menyambar alat kerja terdekat tanpa tujuan yang jelas. Dwi mengambil sebuah tang, sementara Eka mengambil sebuah kapak berukuran cukup besar.

“Bro, aku mau ngelanjutin kerjaan memaku peti yang tadi, ya.”

“Sip!” balas Dwi. “Ganti dulu alatnya, Bro! Masa pakai kapak.”

“Iya juga, ya,” Eka terdiam sejenak. “Duh, tapi aku malas ngambil palu ke tempat penyimpanan perkakas. Kejauhan.”

“Ya, masa mau memaku pakai kapak? Gede pula.”

“Enggak apa-apa, lah. Lagian tinggal memaku beberapa biji lagi saja,” pungkasnya sambil berlalu meninggalkan Dwi.

Entah Eka lupa atau pura-pura lupa. Padahal, perkara semacam ini sebenarnya sudah dijelaskan pula dalam training penggunaan alat kerja. Bahkan, sering disebutkan secara tegas bahwa setiap pekerja dilarang menggunakan alat yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaannya.

Jika untuk memacak paku ke dalam kayu itu diperlukan palu, maka alat lain selain palu mestinya tidak boleh digunakan. Pasalnya, menggunakan alat yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaan bisa menimbulkan kecelakaan.

“Aaaarrrghhh!” teriak Eka secara tiba-tiba.

Para pekerja terkejut dan langsung mendatangi sumber suara.                                       

“Astaghfirulloh, Mas Eka!” ujar Tirta yang tiba terlebih dulu di tempat kejadian.

Jari telunjuk dan jempol Eka sebelah kiri terkena tebasan kapak. Bahkan, keduanya terlihat nyaris putus. Rupanya, Eka salah mengayunkan bagian kapak yang hendak digunakan untuk memacak paku. Niat hati ingin menggunakan kepala kapak bagian tumpul, yang terjadi malah sebaliknya: bagian tajamlah yang ternyata dipukulkan.