Bagaimana Melaksanakan Job Safety Analysis (JSA) yang Efektif? Ikuti 5 Langkah Penting Ini

29 Januari 2018

Manajemen risiko yang efektif dimulai dengan mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya sebelum insiden terjadi. Sementara, banyak ahli K3 dunia memahami bahwa job safety analysis (JSA) adalah cara tepat untuk menilai bahaya dan menentukan pengendaliannya dalam setiap tahapan suatu proses pekerjaan.

Sumber: gharpedia.com

Membentuk operasi kerja yang sistematis, membangun prosedur kerja yang tepat dan aman serta memastikan setiap pekerja sudah mendapatkan pelatihan dengan benar dapat membantu Anda dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) di tempat kerja.

Dalam hal ini, pelaksanaan job safety analysis menjadi cara yang efektif untuk mewujudkan ketiga hal tersebut melalui analisis bahaya yang terdapat di area kerja. Anda sebagai supervisor dapat menggunakan hasil analisis tersebut untuk mengendalikan bahaya di tempat kerja.

Job safety analysis (JSA), biasa disebut juga dengan job hazard analysis (JHA) atau job task analysis (JTA) adalah teknik manajemen keselamatan yang berfokus pada identifikasi bahaya dan pengendalian bahaya yang berhubungan dengan rangkaian pekerjaan atau tugas yang hendak dilakukan di area kerja. JSA umumnya melibatkan empat unsur penting sebagai berikut:

  1. Langkah-langkah pekerjaan secara spesifik
  2. Identifikasi bahaya yang terdapat pada setiap langkah pekerjaan
  3. Menentukan skala bahaya atau urutan bahaya yang harus ditangani terlebih dahulu (atau bahkan tidak perlu penanganan)
  4. Merancang dan menerapkan pengendalian bahaya.

Melalui analisis bahaya yang sistematis mencakup identifikasi bahaya dan pengendaliannya dalam setiap tahapan suatu proses pekerjaan di area kerja, ini dapat membantu Anda menciptakan lingkungan kerja yang aman.

Poster K3 Analisa Keselamatan Kerja (JSA)

Sumber: safetyposter.co.id

 

Dengan melaksanakan JSA, sebetulnya Anda sebagai supervisor sudah memastikan bahwa Anda telah merencanakan dan membuat prosedur kerja dengan benar dan pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan aman. 

Maka dari itu, JSA dapat dikatakan sebagai metode yang sangat penting dalam manajemen risiko karena dapat membantu pekerja melakukan pekerjaannya secara aman dan efisien, juga melindungi peralatan kerja dari kerusakan.

Melalui pelaksanaan JSA secara komprehensif, hal ini dapat berdampak juga pada berkurangnya jumlah cedera dan PAK, berkurangnya absen pekerja, biaya kompensasi pekerja jadi lebih rendah, bahkan meningkatkan produktivitas.

 

5 Langkah yang Sebaiknya Supervisor Lakukan dalam Melaksanakan Job Safety Analysis (JSA) yang Efektif

Menurut Occupational Health and Safety Act (OHSA), JSA harus dibuat oleh orang yang kompeten yang mengetahui bahaya yang ada di tempat kerja. Biasanya, orang kompeten yang membuat JSA adalah foreman (mandor/pengawas) dan supervisor.

Umumnya, baik foreman atau supervisor bertanggung jawab untuk membuat JSA, mendokumentasikan berkas JSA, memberi pelatihan kepada seluruh pekerja sesuai yang tercantum di JSA, dan menegakkan prosedur kerja yang aman dan efisien.

Namun, pekerja juga didorong untuk terlibat dalam pembuatan dan penerapan JSA, karena mereka yang paling mengetahui tentang bahaya serta bagaimana cara mengontrol dan mengendalikan bahaya yang terdapat di area kerja mereka.

Sumber: safetyseeker.com

Langkah 1 Memilih pekerjaan yang akan dianalisis

Untuk memulai proses JSA, pilih pekerjaan atau tugas yang perlu dievaluasi. Memilih pekerjaan untuk dianalisis mungkin terdengar sederhana, namun dapat menjadi pertimbangan penting ketika Anda memiliki waktu dan sumber daya terbatas untuk menganalisis semua tahapan proses pekerjaan.

Pada dasarnya, hampir semua jenis pekerjaan membutuhkan JSA. Namun, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan prioritas pekerjaan yang harus dianalisa terlebih dahulu, di antaranya:

  • Pekerjaan dengan tingkat kecelakaan kerja atau PAK tertinggi
  • Pekerjaan yang berpotensi menyebabkan cedera serius atau PAK yang mematikan, bahkan untuk pekerjaan yang tidak ada riwayat kecelakaan sebelumnya
  • Pekerjaan di mana satu kelalaian kecil yang dilakukan pekerja dapat menyebabkan kecelakaan fatal atau cedera serius
  • Setiap pekerjaan baru atau pekerjaan yang telah mengalami perubahan proses dan prosedur kerja
  • Pekerjaan yang cukup kompleks dan membutuhkan instruksi tertulis.

Berbagai faktor di atas dapat membantu Anda menentukan pekerjaan apa saja yang harus diprioritaskan dan harus dianalisa terlebih dahulu. 

Langkah 2 Merinci langkah-langkah pekerjaan dari awal hingga selesainya pekerjaan

Untuk melaksanakan JSA yang tepat dan menyeluruh, setiap pekerjaan harus dirinci. Langkah-langkah ini tidak hanya dibuat secara spesifik untuk satu pekerjaan tertentu, tetapi juga khusus untuk satu area kerja tertentu. Jika area kerja berubah tetapi jenis pekerjaan sama, tetap saja langkah-langkah dari pekerjaan tersebut perlu berubah juga.

Penting untuk menghindari merinci pekerjaan terlalu sempit (detail) atau terlalu luas. Umumnya, setiap pekerjaan mengandung tidak lebih dari 10 tugas perorangan. Jika ternyata tugas perorangan pada JSA melebihi jumlah ini, pertimbangkan untuk membagi pekerjaan menjadi dua atau lebih fase secara terpisah.

Penting bagi supervisor untuk menjaga urutan tugas dengan benar guna memastikan bahwa setiap tahap identifikasi bahaya dan pengendaliannya sesuai urutan pekerjaan yang dilakukan para pekerja.

Perincian tugas biasanya dilakukan dengan cara pengamatan langsung, setidaknya satu supervisor mengetahui  tahapan pekerjaan secara langsung dan mencatat serangkaian tugas yang dilakukan oleh pekerja yang terlatih dan berpengalaman.

Pengamatan langsung terhadap pekerja yang berpengalaman membantu memastikan bahwa pekerjaan dilakukan sesuai urutan yang tepat dengan tingkat pencegahan yang tinggi, ini membantu supervisor mengidentifikasi bahaya yang tidak terduga jadi lebih mudah. Hal ini juga membantu memastikan bahwa semua tugas, termasuk langkah yang sering terlewatkan seperti pengaturan dan pembersihan, dapat ditinjau ulang.

Ingat! Jika langkah-langkah pekerjaan tidak teridentifikasi, bahaya juga tidak dapat diidentifikasi. Setelah pengamatan langsung selesai dilakukan, supervisor dan pekerja yang terlibat harus melakukan peninjauan ulang temuan dan memastikan bahwa semua langkah sudah teridentifikasi.

Langkah 3 Identifikasi bahaya

Setiap bahaya harus diidentifikasi sesegera mungkin setelah pengamatan dan perincian setiap langkah pekerjaan selesai dilakukan. Jika satu atau lebih langkah pekerjaan perlu diulang, sebaiknya lakukan dengan segera, jika memungkinkan.

Identifikasi bahaya menjadi bagian paling penting dalam pelaksanaan JSA. Berikut beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan saat mengidentifikasi bahaya:

  • Penyebab kecelakaan kerja sebelumnya (jika ada)
  • Pekerjaan lain yang berada di dekat area kerja
  • Regulasi atau peraturan terkait pekerjaan yang hendak dilakukan
  • Instruksi produsen dalam mengoperasikan peralatan kerja.

Supervisor juga sebaiknya mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pekerja untuk mengidentifikasi bahaya terkait langkah pekerjaan yang dilakukan. Contoh pertanyaan seperti:

  • Apakah ada potensi bahaya terjepit atau anggota tubuh yang terperangkap saat bekerja menggunakan mesin atau alat bergerak/ berputar?
  • Apakah peralatan yang digunakan berpotensi menimbulkan bahaya?
  • Apakah ada potensi bahaya terpeleset, tersandung dan terjatuh?
  • Apakah ada risiko terpapar panas atau dingin yang ekstrem?
  • Apakah ada potensi terpapar zat berbahaya dan beracun, radiasi berbahaya atau bahaya listrik?

Pertanyaan yang diajukan harus mencerminkan bahaya yang berpotensi muncul terkait dengan lingkungan kerja dan langkah-langkah pekerjaan yang telah dirinci. Pekerja yang melakukan tugas di mana JSA sedang dilakukan harus memberikan saran dan pendapat terkait proses identifikasi bahaya.

Selanjutnya, pengendalian yang tepat kemudian harus dikembangkan untuk meminimalkan bahkan menghilangkan potensi bahaya pekerjaan demi terciptanya lingkungan kerja yang aman.

Langkah 4 Menentukan tindakan pengendalian

Setiap bahaya yang telah diidentifikasi sebelumnya tentu membutuhkan pengendalian. Pengendalian ini menjelaskan bagaimana cara Anda akan menghilangkan bahaya di area kerja atau bagaimana cara Anda akan mengurangi risiko cedera secara signifikan.

Hierarki kontrol/ pengendalian bahaya adalah sebuah alat yang umum digunakan untuk mengembangkan tindakan pengendalian bahaya yang terkait dengan pekerjaan. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) membagi lima hierarki pengendalian bahaya di tempat kerja, di antaranya:

  1. Eliminasi − menghilangkan atau meminimalkan bahaya
  2. Substitusi − mengganti  alat, mesin, atau bahan lain yang berbahaya menjadi kurang berbahaya
  3. Rekayasa teknik − melakukan isolasi, memasang sistem ventilasi tambahan, modifikasi alat, mesin atau tempat kerja jadi lebih aman
  4. Pengendalian administratif – prosedur, aturan, pelatihan, durasi kerja, rambu K3, poster K3, label, dll.
  5. Alat pelindung diri (APD).

Eliminasi bahaya secara luas dianggap sebagai solusi jangka panjang yang paling efektif untuk memperbaiki keselamatan kerja di perusahaan. Namun, sering kali juga termasuk upaya pengendalian bahaya yang paling sulit diterapkan dalam jangka pendek dan memakan biaya yang mahal.

Sementara, upaya pengendalian administratif dan penggunaan APD cenderung lebih murah dan mudah untuk diterapkan pada awalnya, namun sering kali kurang efektif untuk mengendalikan bahaya dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Langkah 5 Dokumentasi dan komunikasikan temuan analisis bahaya kepada pekerja

Setelah JSA selesai dilaksanakan, hasilnya harus didokumentasikan dan diinformasikan kepada pekerja sehingga mereka mengetahui bahaya terkait dengan pekerjaan yang akan mereka lakukan dan mengetahui tindakan pencegahan/ pengendalian yang membantu mereka agar tetap aman ketika bekerja.

Pasalnya, fungsi JSA sebagai pencegah kecelakaan kerja tidak akan efektif bila para pekerja tidak mengetahui dan memahami apa saja yang dijelaskan dalam JSA. Sebelum memulai suatu pekerjaan, pastikan supervisor dan tim meninjau isi JSA dan pastikan juga semua pekerja mengetahui bagaimana prosedur bekerja secara aman sesuai yang tertuang dalam JSA.

Terkait hal ini, pelatihan yang efektif dan didokumentasikan dengan baik sangat penting untuk memastikan para pekerja memahami setiap bahaya dalam pekerjaan mereka dan cara menghindarinya.

JSA harus menjadi dokumen ter-update yang memuat informasi tentang risiko, document control dan informasi tentang bahaya yang ada di lingkungan kerja maupun setiap langkah pekerjaan dan cara tepat untuk mengendalikannya.

Perubahan Kondisi Area Kerja

Jika kondisi area kerja berubah atau area kerja berpindah, supervisor atau foreman harus memperbarui JSA, karena potensi bahaya di area tersebut juga mungkin berbeda serta melakukan peninjauan ulang JSA yang telah diperbarui bersama pekerja.

Ingat! Jika pekerja Anda melakukan jenis pekerjaan yang sama di dua lokasi berbeda, kemungkinan Anda memerlukan dua JSA karena bahaya di masing-masing area kerja mungkin berbeda juga.

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
13 Februari 2018
Rentetan Kecelakaan Kerja di Sektor Konstruksi, Refleksi Buruknya Implementasi K3?
Kontraktor wajib memiliki program K3  dan pekerja harus mematuhi aturan K3, sehingga kecelakaan kerja bisa dihindari.

1 Februari 2018
SAFETY STORY: Sepele Padahal Berbahaya
Dalam kasus yang lebih parah, cedera tulang ekor akibat jatuh terduduk dapat menyebabkan kelumpuhan pada alat gerak tubuh.

18 Januari 2018
SAFETY STORY: Lakon yang Mengubah Hidupku
Akibat kecelakaan itu, aku harus rela kehilangan kedua tangan. Memang, aku masih beruntung karena nyawa tidak turut hilang.

11 Januari 2018
SAFETY STORY: Safety Bukan Pilihan
terpenting, kejadian yang menimpaku ini bisa menjadi preseden dan pembelajaran berarti, baik untuk diriku sendiri maupun untuk rekan kerja lainnya. Dengan ini, semoga kami tidak perlu menunggu terjadinya kecelakaan agar tahu arti pentingnya keselamatan.

8 Januari 2018
Computer Vision Syndrome (CVS), Bahaya Terlalu Lama Bekerja Di Depan Komputer
Bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, dampaknya tidak hanya menimbulkan masalah penglihatan jangka panjang tetapi juga mengganggu produktivitas dan keselamatan kerja.