SAFETY STORY: Sepele Padahal Berbahaya

1 Februari 2018

Sepele Padahal Berbahaya

Sudah enam hari aku dirawat di rumah sakit. Tak disangka, penyebabnya adalah hal yang mungkin terdengar sepele bagi kebanyakan orang. Begitu pun bagi diriku. Setidaknya sebelum aku tahu kalau hal tersebut ternyata memiliki efek yang sama sekali tidak sepele.

Seminggu yang lalu, alias tujuh hari sebelum masuk rumah sakit, aku jatuh akibat terpeleset di tempat kerja. Penyebabnya, kakiku menginjak cairan yang tumpah di lantai. Padahal, tumpahannya tidak terlalu banyak.

Sebagian besar rekan kantor menertawakanku. Mungkin bukan hanya karena aku terlihat tolol dengan terpeleset, tapi karena posisi jatuhku yang tidak biasa: jatuh dengan posisi terduduk. Sebagian yang lainnya menengok dari balik layar komputer sambil bertanya, “Ga kenapa-kenapa, Bro?” atau “Makannya hati-hati, Bro!

Entah kenapa, saat itu aku hanya bisa terdiam. Aku merasa kesulitan untuk bergerak juga untuk berkata-kata. Tiga orang rekan kerja pun akhirnya membantuku untuk bangkit. Mereka membopongku menuju meja kerja. Ngilu di bagian bokong baru terasa persis setelah aku menempelkan pantat di kursi kerjaku itu.

Saat bangun tidur pada keesokan harinya, badanku terasa tidak enak. Sesekali aku merasa pusing. Area pinggang terasa tertekan. Nyeri pada punggung bagian bawah menjalar hingga leher. Bahkan ketika aku mencoba berjalan ke kamar mandi, kaki kananku terasa sulit untuk digerakkan. Setelah akhirnya dirujuk ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa semua terjadi akibat tulang ekorku mengalami keretakan.

Enam hari yang menyakitkan sekaligus menjemukan itu pun berlalu. Dan baru hari ini aku mendapat kabar baik. Besok aku sudah diperbolehkan pulang.

“Terima kasih, Dok,” ungkap istriku.

“Sama-sama, Bu. Tapi, setelah pulang ke rumah, suami Anda diwajibkan menjalani terapi setiap dua minggu sekali.”

“Lho, kenapa memangnya, Dok?” sambarku.

Dokter itu pun terlihat menghela napas yang cukup panjang. Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh.

“Jadi begini Pak… cedera pada tulang ekor itu bukan perkara sepele. Butuh waktu lama untuk proses penyembuhannya.”

“Untungnya,” sambung dokter itu.

“Untungnya apa, Dok?” desak istriku.

“Untungnya suami Anda tidak mengalami cedera yang lebih parah.”

Dokter berambut tebal dengan uban yang sudah tampak di bagian kiri dan kanan kepalanya itu pun menjelaskan bahwa dalam kasus yang lebih parah, cedera tulang ekor akibat jatuh terduduk dapat menyebabkan kelumpuhan pada alat gerak tubuh. Lebih seringnya terjadi pada kaki. Untungnya, aku segera mendapat penanganan medis dan ditangani oleh dokter yang kompeten. Mimpi buruk itu pun tidak terjadi.

Tanpa menghiraukan dokter yang beberapa kali sudah melirik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya, aku kembali melontarkan pertanyaan padanya.

“Jadi, bahaya terjatuh dalam posisi duduk itu bisa sampai segitunya, ya, Dok?”

“Iya. Tidak banyak orang yang sadar. Padahal efeknya tidak main-main.”

“Apa semua yang mengalami kejadian yang sama seperti saya harus dirawat di rumah sakit, Dok?”

“Ya, tidak juga, Pak”

Dengan tergesa-gesa, dokter itu kemudian memberikan sedikit wejangan padaku. Walau diucapkan dengan cukup cepat, aku masih ingat dengan baik satu persatu kalimat yang keluar dari mulutnya.

Menurut dokter yang aku taksir umurnya sekitar 45 tahunan itu, untuk mencegah bahaya lebih lanjut dari jatuh terduduk, kita sebenarnya bisa melakukan perawatan sendiri di rumah. Hal paling utama yang bisa dilakukan adalah dengan segera mengompres bagian bokong atau area sekitar tulang ekor yang sakit dengan air es selama 15-20 menit. Lakukan hal itu sebanyak tiga atau empat kali dalam sehari.

Selanjutnya, kita harus menghindari duduk terlalu lama di tempat yang permukaannya keras serta dianjurkan untuk banyak mengonsumsi makanan berserat.

“Biar tinjanya tidak keras, Pak. Kan kalau tinjanya keras, nanti saat bung air besar tulang ekor akan tertekan dan bertambah sakit.”

Selain itu, dokter yang akhirnya aku ketahui bernama Antonius itu mengatakan bahwa kita juga bisa mengonsumsi obat pereda nyeri seperti Ibuprofen atau Aspirin.

“Jika semua hal itu sudah dilakukan tapi tulang ekor atau area sekitarnya masih terasa sakit, ya berarti harus mendapat penanganan medis, seperti Anda ini,” tutupnya.

Semoga menginspirasi, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id

 

 




Baca juga
19 Juli 2018
Keselamatan Bekerja Sendirian (Lone Worker), Pahami Bahaya dan Pengendaliannya!
Pada dasarnya, setiap pengurus memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh pekerja terlepas dari apakah mereka bekerja didampingi rekan kerja lain atau sendirian (lone worker)

12 Juli 2018
SAFETY STORY: Jay dan Lift yang Terjatuh
Kali belum merasa belum puas dengan jawaban yang dilontarkan Jay. Penjelasan itu dirasa terlalu singkat untuk mendeskripsikan sebuah kejadian penyelamatan diri dari kecelakaan yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja, bahkan cenderung mengerikan.

5 Juli 2018
SAFETY STORY: Satu Orang Seenaknya, Semua Kena Imbasnya
Sumber ledakan berasal dari tempat pengisian tabung gas oksigen. Firman, salah satu dari tiga pekerja yang saat itu bertugas mengisi oksigen pada tabung gas bertekanan tersebut diduga telah melakukan prosedur yang tidak sesuai.

28 Juni 2018
SAFETY STORY: Sekali Hilang, Lenyap untuk Selamanya
Bekerja di sebuah bengkel mesin untuk memperbaiki dan membuat kapal, membuat Yudha bekerja di antara bahaya kebisingan yang besar. Setiap saat dia terpapar kebisingan dari berbagai mesin dan alat kerja dengan intensitas lebih dari 85 dBA selama hampir delapan jam dalam sehari.

21 Juni 2018
SAFETY STORY: Oleh-oleh Lebaran untuk Bajang
Tiba-tiba Bajang merasa sangat lemas. Beberapa detik kemudian, Bajang terjatuh dan tidak sadarkan diri. Rekan-rekan kantor langsung membawanya ke rumah sakit.