SAFETY STORY: Berbagi Tak Selalu Baik

4 Januari 2018

Berbagi Tak Selalu Baik

Sudah dua hari ini Ramlan merasa kurang enak badan. Pemicunya adalah daya tahan tubuh yang sedang lemah bertemu dengan guyuran air hujan. Kombinasi yang sempurna untuk menyambut berbagai penyakit di musim hujan. Walau begitu, Ramlan memaksakan diri tetap masuk kerja dengan berbagai pertimbangan.

“Udah tahu di Indonesia itu cuma ada dua musim. Kalau enggak kemarau, ya pasti hujan. Tapi, kamu masih saja enggak bawa jas hujan,” ucap Edo, teman satu kantornya.

“Yaelah, namanya juga lupa.” Haaachiih! “Bukan disengaja.”

“Lupa kok tiap hari.”

Ramlan merengus sambil sesekali bersin lagi.

“Eh, pakai masker, Ram. Nanti nular.”

“Enggak bawa, Do.”

“Di kotak P3K ga ada?”

“Enggak ada juga, tuh.” Haaachiih!

Beberapa waktu setelahnya, keadaan Ramlan makin memburuk. Perlahan, tenggorokannya sakit. Di satu sisi badannya terasa dingin, tapi di sisi lain berkeringat. Selain itu, Ramlan pun mengeluhkan kalau badannya pegal-pegal, ototnya nyeri, serta kepalanya jadi berat dan sakit.

Rekan-rekan kerjanya, terutama Edo, sudah menyarankan supaya Ramlan izin pulang saja. Daripada memaksakan diri terus bekerja dalam keadaan seperti itu. Namun, Ramlan bergeming. Alasannya, Ramlan saat ini sedang banyak pekerjaan. Kalau hari ini tidak masuk atau pun izin pulang, maka keesokan harinya pekerjaan itu akan menumpuk. Kalau pun dikerjakan oleh rekan kerjanya yang lain, dirinya merasa tidak enak hati.

“Susah sih, ya. Tapi, flu itu kan cepat menular, Ram. Kalau tetap kerja, nanti kamu malah merugikan yang lain,” tutur Edo.

“Virus influenza itu bisa menular lewat udara dan prosesnya bisa cepat banget. Apalagi kita kerja di ruang ber-AC macam ini. Sirkulasi udaranya buruk. Penularannya bakal jauh lebih cepat,“ sambung Edo dengan gaya bicara serupa ahli kesehatan.

“Parahnya, kamu juga dari tadi enggak pakai masker saat bersin-bersin atau batuk. Lebih parah lagi, dari tadi aku dekat-dekat sama kamu. Haduh… bakal ketularan nih,” tambahnya lagi sambil menutup hidung dan mulut.

Mendengar pernyataan itu, Ramlan jadi berpikir ulang.

“Do, minta tisu dong!”

“Lha, orang ngomong apa dia malah ngebahas apa.”

“Iya, nanti aku mau izin pulang. Sini minta tisu dulu!” desak Ramlan sambil membekap hidung. Rupa-rupanya ingus sudah menumpuk di dalamnya.

“Ga punya. Ke toilet aja sana!”

Di toilet, lebih tepatnya di hadapan wastafel, Ramlan kembali bersin-bersin disertai batuk kering yang membikin gatal. Kepalanya kian terasa berat. Dia memandangi wajahnya di cermin. Dari sana, terlihat hidung dan kedua matanya kini berwarna kemerahan.

“Sakit, Ram?” ucap seseorang yang tiba-tiba keluar dari salah satu bilik toilet.

Pemilik suara bernada tinggi itu adalah manajer Ramlan. Dia baru saja ke luar dari salah satu bilik yang berjumlah total tiga itu. Sedari tadi sang manajer rupanya mendengarkan suara bersin dan batuk Ramlan dari dalam bilik saat dirinya menuntaskan hajat.

“Eh! Iya, Pak,” jawab Ramlan setengah terkejut mendapati seseorang yang tiba-tiba muncul sambil bertanya demikian. Batuk pun semakin menjadi.

Sang manajer tidak begitu menghiraukan jawaban Ramlan, padahal dia sendiri yang pada awalnya melontarkan pertanyaan. Manajer itu hanya mengangguk malas sambil menghadap cermin seraya membenahi rambutnya yang sudah sangat rapi.

Ramlan yang berniat mengirim email untuk izin pulang kini merasa punya cara yang lebih praktis karena bertemu langsung dengan si pemberi keputusan. Ramlan pun lekas mengungkapkan niatnya itu pada orang berbadan tambun dan terkenal menyebalkan ini. Ramlan yakin, karena sang manajer sudah melihat sendiri kondisi Ramlan yang cukup mengkhawatirkan, permintaan izinnya akan segera diberikan tanpa banyak tanya. Sayang, jawaban yang didapat tidak sesuai harapan.

“Cuma flu ini lah, Ram. Tidak urgen untuk pulang.”

***

Dua hari berikutnya, keadaan Ramlan mulai membaik. Badannya tidak terasa sakit lagi, tapi batuk masih rajin menyapanya. Sayang, Ramlan kali ini tidak sendirian. Tiga orang lainnya yang berada satu ruangan dengan Ramlan sudah mulai bersin dan batuk-batuk juga, termasuk Edo.

Lamat-lamat terdengar suara serupa dari ruangan seberang. Ruangan tempat manajernya bekerja.

Haacchiiih! Uhuk! Uhuk!

Suara bersin dan batuk pun saling bersahutan, mengiringi derai hujan yang kian lantang.

Semoga menginspirasi, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id

 

 

 




Baca juga
13 Desember 2018
Memahami Blind Spot Pada Mobil dan Tips Mengatasi Bahayanya
Sudahkah memeriksa area spot blind pada kendaraan anda? Cari tahu selengkapnya di sini!

10 Desember 2018
9 Langkah Membuat Rencana Pengelolaan Limbah Industri
Fakta menyatakan bahwa dampak limbah industri lebih berbahaya dibanding limbah domestik atau rumah tangga. Apa sajakah dampaknya dan cara pengelolaannya? Simak selengkapnya!

6 Desember 2018
Keselamatan Mengoperasikan Alat Berat, Ini yang Harus Dipahami Operator!
Pekerjaan dengan menggunakan alat berat memiliki risiko kecelakaan yang sangat tinggi, bahkan bisa mengakibatkan kematian jika tidak berhati-hati. Apa saja yang perlu dipahami untuk keselamatan di area kerja? Simak selengkapnya!

22 November 2018
SAFETY STORY: Pentingnya Melaporkan Near Miss
Saat itu, ada seorang pekerja yang hampir celaka gara-gara sebuah palu dari lantai 5 terjatuh tepat di sampingnya.

31 Oktober 2018
SAFETY STORY: Guna Alat Pelindung Kepala
Di tempat kerja yang tinggi potensi bahaya, maut itu ibarat harimau yang kelaparan di tengah hutan. Dia siap menerkam siapa saja yang lengah walau sesaat.