SAFETY STORY: Prinsip, Oh Prinsip

14 Desember 2017

Prinsip, Oh Prinsip


Hari itu Baihaki terlihat sumringah. Jalannya ringan disertai senyum di wajah yang tak henti mengembang. Sesekali dia bahkan terdengar bersiul juga bernyanyi-nyanyi kecil – mirip anak yang baru dapat mainan.

“Seneng amat, Ki,” ucap salah seorang rekan kerjanya.

“Ah, biasa aja,” sahut Baihaki sambil mengecek kelayakan forklift yang akan dikendarainya.

“Jangan-jangan ini ada hubungannya sama cewek itu, ya? Kalian udah jadian?”

“Belum, Bro. Tapi, nanti mau ketemuan.”

“Pantesan girang betul!”

“Haha… Udah, ah. Ayo kerja!” ujar Baihaki coba mengakhiri obrolan bernada menggoda itu.

“Wah, berarti kerjanya harus ngebut, nih! Soalnya, hari ini kerjaan kita banyak, lho!” cerocos si rekan kerja. Baihaki menelan ludah. Wajah bahagianya lenyap seketika.

Walau dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk dan janji di penghujung hari yang mesti dipenuhi, Baihaki tetap melakukan semua pekerjaan dengan baik. Tidak asal-asalan. Prinsipnya, semua pekerjaan harus dilakukan dengan aman. Apapun yang terjadi.

Bukan hanya mengutamakan keselamatan secara pribadi, Baihaki juga begitu peduli pada keselamatan rekan kerjanya, terutama sesama operator forklift. Pada mereka, Baihaki selalu mewanti-wanti agar selalu mengoperasikan forklift dengan aman.

Misalnya, Baihaki tidak bosan mengingatkan kalau forklift harus selalu dicek dahulu sebelum digunakan. Karena, siapa tahu ada bagian atau mesin forklift yang mengalami gangguan. Kemudian saat akan dioperasikan, pengemudi forklift harus mengenakan sabuk pengaman. Tidak boleh tidak.

Baihaki juga selalu mengingatkan bahwa forklift itu bukan kendaraan sembarangan. Jika tidak dikendarai dengan baik, forklift bisa menjadi mesin yang mematikan. Oleh karena itu, prosedur aman dalam mengoperasikan kendaraan ini harus sangat diperhatikan. Mulai dari kecepatan, etika mengemudi, hingga cara dan aturan membawa beban, semuanya harus sesuai aturan.

Tapi, tak selamanya niat baik berbuah baik pula. Begitu pun dengan yang terjadi pada Baihaki. Dalam satu kesempatan, prinsip kerja yang dia pegang membuatnya bersitegang dengan seorang rekan kerjanya yang bernama Faiz. Saat itu, Faiz meminta bantuan Baihaki untuk mengangkat dirinya menggunakan garpu forklift. Faiz hendak mengambil barang di gudang yang tidak terjangkau karena terletak di rak yang cukup tinggi. Tentu saja Baihaki menolak mentah-mentah permintaan Faiz karena hal tersebut dirasa berbahaya serta melanggar peraturan keselamatan kerja.

Merasa tidak diindahkan, Faiz tersinggung. Faiz bahkan sampai mengucapkan kata-kata kasar yang membuat hubungan keduanya menjadi renggang hingga kini. Namun, Baihaki tidak menyesali perbuatannya. Baihaki merasa sudah melakukan hal yang tepat. Demi keselamatan bersama.

***

Menjelang jam pulang kerja, pekerjaan Baihaki masih tersisa cukup banyak. Tentu saja dia tidak sudi lembur karena ada janji. Namun, dia juga tidak bisa menghindari tugasnya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut pada hari itu juga. Merasa tertekan, akhirnya Baihaki mengambil jalan pintas dengan cara melipatgandakan beban yang dipindahkan. Jadi, dalam satu kali jalan, Baihaki mengangkut barang dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Menurut perhitungannya, dengan cara itu pekerjaannya akan segera beres hanya dalam lima kali angkut lagi saja.

Karena barang yang dibawa hampir menutupi pandangan, Baihaki pun mengendarai forklift dengan cara mundur. Hal ini dia lakukan pada dua kali angkutan pertama. Merasa hal itu masih memperlambat pengerjaannya, pada angkutan ke-tiga Baihaki mengendarai forklift dengan maju seperti biasa. Forklift pun bisa berjalan lebih cepat. Untuk menjaga pandangan agar terlihat lebih jelas, Baihaki memiringkan badannya ke samping kanan atau kiri kemudi.

Di saat bersamaan, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Baihaki mengabaikan pemberitahuan itu karena merasa harus fokus melihat jalan. Saat suara disertai getaran dari ponsel yang tersimpan di saku celananya berbunyi untuk yang kesekian kalinya, Baihaki jadi penasaran.  Jangan-jangan itu dari dia, pikirnya. Karena khawatir pesan yang masuk itu datang dari sang gebetan, akhirnya Baihaki merogoh ponsel dari saku celananya.

Sambil menyetir, Baihaki membagi dua pandangan: yang satu melihat layar HP, yang satunya lagi ke arah lintasan. Celakanya, Baihaki yang konsentrasinya sudah terbagi itu tidak sadar kalau forklift yang dikendarainya sedikit demi sedikit keluar dari jalur yang seharusnya. Karena melaju dengan cukup cepat, pergeseran sedikit saja ternyata menghasilkan manuver yang cukup tajam.

Lebih celakanya lagi, saat itu ada seorang pekerja yang sedang berjalan di jalur pejalan kaki. Forklift yang sudah semakin keluar dari jalurnya itu pun menyerempet ke arah jalur pejalan kaki. Kecelakaan tak terhindarkan.

 

Semoga menginspirasi, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id

 

 

 

 

 

 

 




Baca juga
20 September 2018
SAFETY STORY: Waspada pada Bahaya Gempa
Untungnya, gempa ini memang bukan tergolong gempa besar yang dapat merobohkan tembok atau bangunan. Tidak ada kerusakan yang signifikan. Hanya saja, beberapa barang tampak terjatuh dari tempatnya.

13 September 2018
SAFETY STORY: Pertolongan Pertama yang Keliru
Mengoles luka bakar dengan pasta gigi bisa menutupi kulit dan menghambat cairan yang akan keluar dari dalam tubuh. Hal tersebut akan menghambat proses penyembuhan.

6 September 2018
SAFETY STORY: Gara-Gara Tidak Menerapkan 5S di Tempat Kerja
Tidak ada tempat khusus untuk menyimpan barang tertentu juga tidak pernah ada pengarahan soal ketertiban penempatan barang. Alhasil, semua karyawan menyimpan barang sesuka hati.

3 September 2018
Kurangi Kecelakaan di Jalan Raya, Pengendara Harus Paham Rambu Lalu Lintas
Dari lima negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-4. Kurangnya perhatian kita tentang pentingnya keselamatan di jalan raya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan

30 Agustus 2018
SAFETY STORY: Bercandalah pada Tempatnya
Dalam kadar tertentu, bercanda di tempat kerja memang baik untuk kesehatan mental karyawan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, bercanda bisa berakhir jadi bencana.