Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja: Saatnya Mengenal Paradigma Baru Thomas Krause

22 Desember 2016

Tingkat keparahan cedera (severity rate) di tempat kerja mengalami penurunan, tetapi mengapa tingkat cedera serius atau fatal cenderung stabil? Apakah program pencegahan kecelakaan kerja yang sudah diterapkan kurang efektif? Bagaimana cara mengetahui efektivitas program pencegahan kecelakaan kerja di perusahaan? Benarkah teori piramida kecelakaan Heinrich kurang efektif dalam upaya mencegah kecelakaan kerja?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomas R. Krause menunjukkan bahwa, selama dua dekade terakhir, tingkat kematian dan cedera serius/fatal akibat kecelakaan kerja di Amerika Serikat cenderung stabil, sementara di saat yang sama tingkat cedera ringan atau tingkat keparahan cedera justru mengalami penurunan. Apa ada yang salah dengan program pencegahan kecelakaan kerja yang telah diterapkan?

 

 

Melihat data penelitian tersebut, Krause menyatakan keraguannya akan validitas teori piramida kecelakaan kerja yang diusung oleh Heinrich. Krause berpendapat bahwa teori piramida kecelakaan Heinrich tidak sepenuhnya benar. Sebab, upaya pencegahan kecelakaan yang dilakukan dengan mengurangi kejadian near miss/ hampir celaka tidak efektif untuk menghilangkan cedera serius/fatal di tempat kerja. Hal ini terlihat dari data OGP berikut ini:

Grafik tingkat cedera fatal dan cedera non fatal/ penyakit akibat kerja

Data tersebut menunjukkan, kasus kematian atau cedera serius/fatal akibat kecelakaan kerja cenderung stabil, meskipun kasus cedera ringan atau non fatal sudah mengalami penurunan. Hal ini tentu tidak sesuai dengan teori piramida kecelakaan Heinrich, yang menyebutkan bahwa semakin rendah kasus kecelakaan kerja lain (near miss atau kecelakaan non fatal), maka semakin rendah pula kemungkinan kasus kematian atau cedera serius/ fatal yang terjadi.

Krause menambahkan, kemungkinan ada penyebab tersembunyi di tempat kerja yang luput dari perhatian manajemen K3, dimana hal tersebut memberikan kontribusi lebih sedikit untuk cedera ringan, namun menyumbang presentasi lebih tinggi untuk kematian dan cedera fatal atau serius.

Paradigma Lama: Memahami Kembali Piramida Kecelakaan Kerja Heinrich

Apa itu piramida kecelakaan? Piramida kecelakaan adalah segitiga yang menggambarkan tingkatan jumlah kecelakaan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal atau serius. Para profesional K3 tentu sudah tidak asing lagi dengan piramida kecelakaan Heinrich berikut ini:

Piramida kecelakaan kerja Heinrich

Piramida kecelakaan di atas menjelaskan tentang rasio perbandingan kejadian kecelakaan, yaitu 300:29:1 yang berarti 300 near miss dapat menimbulkan 29 kejadian dengan cedera ringan, atau 1 kejadian dengan cedera serius/ fatal. Pada penelitiannya, Heinrich menjelaskan bahwa suatu hal yang menyebabkan near miss dapat juga menyebabkan cedera serius atau fatal di waktu mendatang. Jadi terjadinya near miss, kejadian dengan cedera ringan, hingga kejadian dengan cedera serius/ fatal berasal dari penyebab yang sama.

Dari rasio tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dasar antara cedera serius/ fatal, cedera ringan, dan near miss. Jadi, bila angka kejadian near miss rendah, maka angka kejadian yang mengakibatkan cedera ringan dan cedera serius/ fatal atau kematian juga rendah bahkan bisa hilang. 

Menurut Heinrich, untuk mendapatkan hasil terbaik dalam pencegahan kecelakaan, manajemen K3 harus memfokuskan pada semua kejadian dengan tidak mengabaikan near miss. Untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kecelakaan yang mengakibatkan cedera ringan dan cedera serius/ fatal, manajemen K3  harus memulainya dengan menekan kejadian near miss atau melakukan eliminasi kasus-kasus near miss di tempat kerja.

Dengan melakukan investigasi terhadap near miss, Anda pun bisa mengetahui penyebab kejadian tanpa harus mengalami kerugian. Lain halnya, bila Anda melakukan investigasi kecelakaan yang telah mengakibatkan cedera ringan, berarti Anda melakukan investigasi pada kejadian yang sudah mengakibatkan kerugian.

Teori piramida kecelakaan Heinrich ini biasanya digunakan manajer K3 atau para profesional K3 untuk membantu investigasi atau menganalisis akar penyebab berbagai kecelakaan yang ada di tempat kerja.

Paradigma Baru: PrekursorSebagai Kunci Pencegah Kecelakaan Kerja

Menanggapi teori piramida kecelakaan Heinrich, pendiri Behavioral Science Technology (BST) dan penulis buku di bidang keselamatan dan kepemimpinan, Thomas R. Krause menyatakan pendapatnya dalam konferensi American Society of Safety Engineers (ASSE) bahwa pemahaman tradisional tentang hubungan antara near miss, cedera ringan dan cedera serius/ fatal, yang diwujudkan dalam piramida kecelakaan Heinrich, mungkin tidak berlaku lagi.

Piramida kecelakaan tersebut menyatakan bahwa penurunan pada near miss atau cedera ringan akan menimbulkan penurunan secara proporsional pada cedera serius/ fatal atau kematian. Namun, dalam 10 tahun terakhir  statistik cedera di Amerika Serikat menunjukkan bahwa jumlah cedera ringan atau cedera non fatal terus-menerus mengalami penurunan sementara jumlah cedera serius/ fatal dan kematian cenderung stabil (tidak berubah). 

Teori piramida kecelakaan Heinrich:

  • Semua cedera ringan berpotensi menimbulkan cedera serius/ fatal di waktu mendatang
  • Cedera dengan tingkat keparahan berbeda memiliki penyebab yang sama
  • Jika persentase cedera ringan berkurang 20%, maka cedera serius/ fatal juga akan berkurang  20%.

Krause pun merancang sebuah paradigma baru mengenai piramida kecelakaan kerja, antara lain:

 

  • Tidak semua cedera ringan berpotensi menimbulkan cedera serius/ fatal
  • Cedera dengan tingkat keparahan berbeda-beda memiliki penyebab yang berbeda pula
  • Upaya pencegahan untuk mengurangi jumlah cedera serius/ fatal akan berbeda dengan upaya pencegahan untuk mengurangi jumlah cedera ringan
  • Strategi untuk mengurangi cedera serius/ fatal harus menggunakan prekursor, yang diambil dari semua sumber yang tersedia diantaranya data kecelakaan, cedera, near miss, dan tingkat paparan di tempat kerja. Lihat tabel berikut ini:

 

  Paradigma baru Krause mengenai piramida kecelakaan kerja

Paradigma baru dari Krause ini menunjukkan bahwa strategi atau upaya yang berbeda perlu dilakukan untuk mencegah cedera serius atau fatal (SIFs) dan strategi optimal untuk melakukannya adalah dengan mengidentifikasi dan mengatasi prekursor yang ada di tempat kerja. Hal ini dapat dicapai dengan menganalisa paparan data pada laporan kecelakaan kerja, cedera, near miss, melakukan observasi, dan audit K3.

Prekursor adalah situasi berisiko tinggi dimana pengawasan manajemen sangat kurang, peraturan/ prosedur tidak efektif dan tidak dipatuhi, dan jika dibiarkan secara terus-menerus atau terjadi berulang-ulang bisa mengakibatkan cedera serius/ fatal atau kematian. Contoh prekursor adalah tidak tersedianya titik anchor (anchor point) untuk menambatkan life line dan lanyard yang aman dan disepakati saat seseorang bekerja di ketinggian atau prosedur kerja yang tidak dipahami dan tidak praktis diikuti oleh pekerja.

Upaya pencegahan dengan menganalisa seluruh data harus dilakukan selama beberapa tahun untuk menemukan kelemahan sistem di tempat kerja Anda dan menemukan insiden mana saja yang bisa berpotensi mengakibatkan cedera serius / fatal atau tidak.

*             *             *

Intinya, Krauser menyimpulkan bahwa tidak semua cedera ringan akan menimbulkan cedera serius/ fatal di kemudian hari dengan kita membiarkannya. Hanya kecelakaan dengan prekursor yang tidak dimitigasi dengan baiklah yang kemungkinan besar bisa menimbulkan cedera serius/ fatal atau kematian. Dalam melakukan upaya pencegahan kecelakaan kerja, sangat penting bagi Anda untuk memperhatikan dan memastikan prekursor sudah dimitigasi dengan baik.

Ada lima langkah yang diusulkan Krause dalam menerapkan paradigma baru pada program pencegahan kecelakaan di tempat kerja:

  1. Memberikan edukasi kepada seluruh pekerja tentang pentingnya paradigma baru untuk mengurangi jumlah cedera serius/ fatal di tempat kerja
  2. Mendokumentasikan tingkat cedera serius/ fatal di tempat kerja
  3. Menghitung besaran kecelakaan kerja yang terjadi dengan cara jumlah cedera serius/ fatal kemudian dibagi jumlah jam kerja. Kumpulkan data SIFs selama dua atau tiga tahun terakhir
  4. Menganalisa data SIFs dengan sistem K3 yang diterapkan sekarang. Contohnya dengan melakukan investigasi insiden, obervasi dan memberikan tanggapan terhadap hasil pengamatan, melakukan penilaian risiko sebelum memulai pekerjaan, dan sistem analisis data
  5. Mengembangkan mekanisme untuk identifikasi dan pencegahan kecelakaan kerja berkelanjutan, mencakup remediasi prekursor SIFs
  6. Mengembangkan dan mengukur efektivitas strategi pencegahan kecelakaan kerja yang telah diterapkan.

 

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
11 Mei 2018
Galian Maut dan Isu Keselamatan Kerja
Kecelakaan kerja pada pekerjaan galian cenderung menyebabkan kematian, umumnya akibat tertimbun tanah, tersengat aliran listrik bawah tanah, kekurangan oksigen, dan menghirup gas beracun.

30 April 2018
Penggunaan Perancah (Scaffolding), Ini Prosedur Keselamatan yang Harus Pekerja Ikuti!
Perancah harus terbuat dari material khusus yang diizinkan. Pencegahan bahaya jatuh harus dilakukan terhadap pekerja yang berada di atas perancah, termasuk pencegahan terhadap benda-benda jatuh.

26 April 2018
SAFETY STORY: Menggadaikan Keselamatan
Seno dan Dian yang panik melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat itu lantas turun untuk menolong. Namun, begitu sampai di dasar tangki dan berusaha menarik badan Mujianto, mereka pun malah ikut tumbang.

23 April 2018
Aturan Keselamatan Menggunakan Tangga Portabel Sesuai Standar OSHA
Kunci keselamatan penggunaan tangga adalah memilih tangga yang tepat, mengatur tangga agar tetap stabil saat digunakan dan mengikuti prosedur bekerja aman.

16 April 2018
ISO 45001:2018 Telah Rilis, Ini Hal-Hal Penting yang Harus Anda Ketahui!
ISO 45001:2018 yang rilis pada Maret 2018 akan menggantikan OHSAS 18001:2007. Organisasi yang sudah mendapatkan sertifikasi OHSAS 18001 memiliki masa retensi selama tiga tahun untuk beralih ke standar ISO 45001.